Minggu, 26 Oktober 2008

Membuka Usaha Barbershop Pria Dandy

Usaha salon khusus lelaki alias barbershop modern memiliki prospek yang baik. Pemainnya memang banyak, tapi pasarnya masih cukup besar untuk masuknya pemain baru. Nah, cari lokasi yang pas, tenaga kerja yang terampil, dan layanan yang nyaman. Lelaki itu bertubuh kekar, atletis. Kumis dan jambang menghiasi wajahnya. Topi lebar nangkring di kepalanya. Hem kotak-kotak, celana jins ketat, dan pistol menyembul di sabuk yang melingkari pinggangnya. Sungguh macho. Setelah turun dari kudanya, dengan langkah tegap berdebam si koboi masuk ke sebuah bangunan. Bukan hendak minum bir atau adu panco, dia ternyata masuk ke salon untuk mendandani penampilannya.

Ya, bisnis mendandani penampilan bukan hanya menyasar pasar perempuan. Sejak zaman wild wild west banyak lelaki jantan yang doyan bersolek. Mereka inilah yang menjadi target salon-salon lelaki atawa barbershop. Selain menyediakan layanan potong dan cuci rambut, kebanyakan barbershop juga menawarkan jasa potong jenggot, kumis, juga massage. Bahkan, kini di kota-kota besar ada beberapa barbershop yang menyediakan layanan mewarnai rambut, manicure, dan pedicure. Agar tak dicap keperempuan-perempuanan, barbershop umumnya menampilkan nuansa maskulin yang amat kental.

Selain itu, ''Kami tolak kalau ada perempuan yang mau potong,'' tutur Bagus Bogadhatta, pemilik Fancy Barbershop yang berlokasi di kawasan Bintaro, ''Kecuali kalau dia mau potong rambut seperti laki-laki.'' Dus, barbershop sebenarnya hendak menjaring para lelaki yang hendak ''merapikan'' dirinya. Mau merapikan rambut di DPR alias di bawah pohon rindang, mereka enggan. Selain tak nyaman, juga enggak bergengsi. Mau masuk ke salon biasa, mereka juga malu dibilang feminin. Maklum, salon-salon biasa memang kebanyakan diisi perempuan.

Bisnis barbershop memang masih cukup menarik. Di zaman digital plus metroseksual ini, kian banyak lelaki yang mendambakan penampilan elok dan rapi. Buktinya pelanggan salon-salon ketampanan para lelaki itu tetap membeludak. Lihat saja, Fancy Barbershop setiap hari biasa setidaknya kedatangan 50 orang pelanggan. Di hari Sabtu, Minggu, dan libur jumlah tamunya bisa melonjak menjadi 100 orang. Begitu pula di Hade Barbershop dan Pax Barbershop. Rata-rata setiap hari kerja satu gerai mereka kedatangan 25 orang sampai 30 orang pelanggan. ''Di akhir pekan atau hari libur jumlahnya bisa naik menjadi 60-80 orang,'' ujar Denny Ramdhani, pemilik dan pengelola beberapa gerai Hade dan Pax. ''Pasarnya hingga sekarang terus tumbuh,'' imbuhnya optimistis.

Tarif di salon pejantan ini memang lebih mahal. Untuk layanan potong rambut, mereka rata-rata memungut biaya Rp 15.000- Rp 25.000. Tapi, belakangan orang lebih senang masuk ke barbershop modern ini ketimbang tukang pangkas rambut lelaki biasa yang hanya mengutip biaya Rp 7.000. Maklumlah, selain gerai yang lebih bagus dan nyaman, di barbershop modern ini pelanggan juga dimanjakan oleh berbagai fasilitas. ''Di sini minum, handuk hangat, dan massage kami berikan gratis,'' kata Bagus.

Pakai peralatan seken lebih iritJika Anda tertarik masuk ke bisnis barbershop modern yang menyasar kelas menengah seperti mereka, Anda harus menyediakan modal awal yang cukup besar. Jumlahnya mencapai Rp 100 juta-Rp 150 juta.Modal itu sebagian besar untuk membeli perlengkapan yang wajib dimiliki sebuah barbershop. Tidak sembarang tempat potong rambut dan merapikan kumis jenggot bisa menyandang nama barbershop. Sebuah barbershop harus dilengkapi berbagai peralatan khas. Sebutlah lampu berulir dengan warna merah, putih, biru yang berputar-putar di depan toko.

Barbershop juga harus memiliki tempat duduk khusus dengan satu kaki untuk potong rambut. Lampu ulir dan tempat duduk itu bukanlah barang murah. Lampu barbershop saja harganya bisa Rp 1 juta-Rp 4 juta seunit. Adapun harga seunit bangku cukur mencapai Rp 8 juta. Belum lagi biaya untuk membeli berbagai perlengkapan dan peralatan. Di antaranya peralatan potong, mesin pemanas handuk, meja dan kacanya, dan perlengkapan-perlengkapan interior lainnya.

Untuk mengirit pengeluaran, Anda bisa mencari barang-barang seken dengan harga miring. Tapi, pastikan barang-barang itu tak hanya masih berfungsi baik tapi juga masih indah dipandang mata. Maklumlah, barbershop modern menyasar lelaki kelas menengah atas yang sangat memperhatikan kenyamanan dan image. Selain modal, untuk membuka barbershop Anda mutlak memiliki tukang cukur yang andal. Para pria yang datang ke barbershop biasanya kepengin mendapatkan layanan yang rapi dengan cepat.

Jalan pintas untuk memperoleh tenaga tukang cukup yang andal tentu saja dengan membajak tukang cukur yang sudah berpengalaman. ''Ketika mulai dari awal dulu, saya tidak mau sumber daya dengan kualitas co-pilot. Saya merekrut yang sudah pilot semua,'' aku Bagus berbagai tip. Gaji para pemotong rambut terlatih itu memang lumayan besar. Di barbershop milik Denny misalnya, selama 4-6 bulan pertama gerainya berdiri, para pemotong rambut memperoleh gaji Rp 50.000 per hari. Jadi, kalau si tukang cukur masuk selama 30 hari dalam sebulan, Denny mengeluarkan upah sebesar Rp 1,5 juta untuk seorang tukang cukur.

Setelah barbershop mulai ramai, Denny mulai menerapkan sistem bagi hasil untuk para tukang cukurnya. ''Besarnya 40% dari pendapatan kotor untuk para tukang cukur itu,'' kata dia. Terakhir, tentu saja kita harus bisa memilih tempat yang tepat. Untuk menjamin kenyamanan pelanggan, pastikan ruang barbershop Anda memadai untuk menempatkan bangku cukur dan ruang tunggu tamu. ''Idealnya barbershop punya 4-5 bangku cukur,'' ujar Bagus. Untuk menampung 4-5 bangku cukur, menurut Bagus, dibutuhkan ruang seluas 40 m2-45 m2. Selain ruang yang memadai, yang paling penting adalah pemilihan lokasi yang tepat.

Tempat yang kita pilih juga akan sangat mempengaruhi pendapatan. Lokasi yang bagus untuk barbershop modern adalah di mal atau pusat perbelanjaan yang ramai dikunjungi orang. Selain itu, lokasi-lokasi lain yang ramai disinggahi atau dilewati orang pun cocok untuk barbershop. Bila lokasinya oke, menurut pengalaman para pemilik barbershop, usaha barbershop akan balik modal dalam waktu 2 tahun. ''Tapi kalau dalam dua tahun modal belum balik juga, sebaiknya usaha di lokasi itu ditutup saja,'' saran Denny yang memiliki beberapa barbershop di Jakarta. Bagaimana, Anda berminat?
__________________

Tidak ada komentar: